Diam yang Menyebalkan

Diam itu emas. Ya, istilah itu bagi saya hanya berlaku dengan syarat dan kondisi tertentu. Belakangan ini energi saya banyak terkuras karena ulah orang-orang yang pendiam.

Padahal diam, tapi mengapa saya mengatakan mereka itu berulah?



Suatu waktu kita dihadapkan kenyataan bahwa kita ini makhluk sosial. Di mana dalam kehidupan kita akan sering bersinggungan dengan orang lain, dan secara tidak langsung kita punya andil untuk membuat orang lain merasa nyaman di dekat kita. Minimal tidak menyusahkan orang lain karena perilaku “diam” yang sesat dan tidak pada tempatnya.

Lah, kenyamanan orang lain bukan urusan gue!

Oke. Mungkin anda berpikiran begitu.

Saya akan kasih contoh begini.

Bayangkan misalkan anda naik kereta. Terus ada bapak-bapak yang ternyata sudah duduk di kursi yang anda pesan. Anda mencoba berbicara padanya, bertatapan muka, bahwa kursi yang ia duduki adalah kursi anda. Kemudian bapak-bapak itu hanya diam dan tak bergeser dari tempat duduknya.

“Maaf Pak, ini bangku saya.”                  

Sekali, dua kali anda berbicara secara sopan kepada si bapak. Lalu anda coba menunjukkan tiket kereta milik anda, sebagai bukti bahwa anda tidak berbohong.

“Ini Pak tiket saya, sama dengan nomor kursi ini.”

Sampai sini pemakluman kalian masih tinggi. Yah, maklumlah orang tua, mungkin tidak mendengar dengan jelas. Tapi Lagi-lagi si bapak hanya diam.

Poko’e wis meneng bae.

Di dalam hati nih, anda mulai berpikir kenapa bapak ini cuma diam?

Baiklah, sampai sini anda mungkin masih bersabar. Yak, sabar…sabar…!!

Kemudian anda cari cara lain, meminta bapak itu menunjukkan tiket miliknya.

“Maaf Pak, coba dilihat dulu tiket bapak, nanti saya bantu carikan di mana kursinya. “

dan ternyata respon dia pun masih sama… Diam.

Mulai kesal, kan? Haha.

Saya yakin, pasti selanjutnya anda akan mencoba berbicara dengan nada yang lebih tegas. Saat bapak-bapak itu sadar anda mulai marah, si bapak akhirnya baru merespon. Langsung mengecek tiket miliknya dan menyadari bahwa memang ia duduk di kursi yang salah.

Setelah tahu dia salah kursi, si bapak itu hanya bergumam, “Oh”.

Yang terjadi kemudian, seperti tebakan anda semua, tanpa mengucap kata “maaf” si bapak langsung berdiri dan pergi begitu saja.

Ya, pindah aja gitu, tidak peduli anda sudah kesal dengan sikapnya barusan.


Nah, jadi tipe pendiam begini yang saya maksud. Diam yang tidak pada tempatnya. Saat ia tahu ia bisa berkata sesuatu untuk merespon orang lain dengan cara yang baik, ia tidak melakukannya, malah memilih diam. Saat ia bisa berbicara untuk menyelesaikan masalah, ia memilih untuk pura-pura tak mengerti dan cuma diam. Saat ia mampu berbicara untuk mengungkap kebenaran padahal ia tahu bahwa akan ada orang yang dirugikan, lagi-lagi ia memilih diam. Saat mulutnya bisa mengucap “Maaf” mengakui kesalahan sudah membuat orang lain merasa tidak nyaman dan kesal, atau sekedar berterima kasih karena sudah dibantu, lagi-lagi si pendiam ini hanya bisa diam.

Diam bisa jadi Emas. Tapi diam itu juga bisa menjadi penyakit. Kadang diam bagi saya bisa begitu mengerikan. Diam bahkan bisa berubah menjadi senjata untuk menyakiti orang lain. Belakangan ini saya merasa orang-orang pendiam yang saya temui semuanya sangat menyebalkan. Saya sempat kesal ini memang mereka yang gak tahu caranya ngomong, atau mereka memang memilih diam. Atau jangan-jangan mereka ini tidak punya nyali buat angkat suara?

Oke, saya akui saya juga kadang memilih diam untuk hal-hal tertentu. Tapi tidak bila menyangkut kepentingan orang lain. Apalagi sesuatu yang dampaknya besar dan merugikan. Saya akan bicara pada apa-apa yang memang harus diutarakan. Saya akan bicara karena saya tahu resikonya. Saya akan bicara karena saya sadar mulut bukan cuma buat makan dan jadi pajangan.

Saat saya bicara, mungkin saya akan dianggap salah atau berseberangan. Mungkin ucapan saya akan ditolak dan tidak didengar. Mungkin suatu waktu saya terbata-bata dalam menyampaikan isi di pikiran dan hati saya. Mungkin pula saya akan melakukannya berkali-kali sampai mereka paham dengan maksud ucapan saya. Mungkin setelahnya saya juga akan menyesal dengan kata yang terlanjur keluar dan kadang dihantui oleh prasangka atau pikiran negatif saya sendiri. Dan masih banyak respon-respon negatif lain yang mungkin akan saya terima.

Tapi di atas kemungkinan itu semua, kita bisa memilih, mau atau tidak menerimanya.

Kalau kondisi menuntut kita untuk bicara, mengapa kita memilih diam?

9 comments

  1. Salam kenal, kak.. nice post
    wah, iya benar, pasti menyebalkan sekali ya dalam kondisi seperti itu.
    mungkin bapaknya masih loading, kak.. hehe
    biasanya laki2 bicaranya memang sedikit, kak 🙂

    Like

  2. Secara psikologis seorang laki-laki akan banyak diam ketika dia sedang menghadapi problem. Meski tidak semua begitu, tetapi rata-rata sih diem-diem bae kaya ngelamun. Badannya di mana, pikirannya ke mana-mana.

    Lain halnya dengan perempuan. Pada umumnya ketika perempun berhadapan dengan sebuah problem, akan cenderung mencari teman yang mau mendengar cerita keluh kesahnya dengan penuh empati. 😅

    Berbaik sangka saja, Mbak. Siapa tahu orang tersebut sedang banyak masalah di tempat kerja dan rumah. Jadi satu-satunya tempat yang nyaman untuk merenungkan semuanya adalah di dalam kereta. 😅

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s