Rindu

Aku rindu berbincang. Mengukir wajahnya di baris-baris aksara. Menggenggam laranya yang terselip di sudut kertas. Aku rindu mendengar kesahnya hari ini, atau kemarin-kemarin, atau apapun yang membuatnya senang, atau yang membuatnya murka dan melukainya, yang datang namun tak diinginkan. Aku rindu tertawa bersama, saat bait yang ia tulis terdengar bijaksana. Mensyukuri masih ada harapan yang beku. Di balik tumpukan kekecewaaan dan lembar kemarahan. Aku juga rindu menertawai kepura-puraan dan wajah palsunya, yang sekuat diri ia tampakkan Di balik bingkai senyuman. Aku terlalu rindu sekedar menjadi ada. Menjadi rahasia dalam kesepiannya. Advertisements Continue reading Rindu

Aku dan Puisi

Sejak kapan saya menyukai puisi? Seperti sebuah makanan, setiap orang juga memiliki rasa dan selera yang berbeda terhadap karya sastra. Berbicara tentang sastra sendiri sebenarnya saya tidak ahli di sana. Termasuk dengan tipe yang tidak ingin terlalu tahu tentang seluk beluk sastra. Dulu, mendengar kata sastra itu seperti terasa asing. Rasanya sastra itu adalah sejenis istilah yang hanya dipelajari oleh orang-orang dengan pemikiran yang berat. Saya tahu akhirnya sekarang bahwa itu adalah pemikiran yang salah. Sastra itu bentuk dari kreatifitas seseorang mengolah rasa dan akal. Seperti lagu, dongeng, cerpen bahkan novel pun adalah karya sastra yang padahal sudah saya nikmati … Continue reading Aku dan Puisi

Perempuan dan Pernikahan (Part 1)

Hari ini seorang teman bertanya ke gue. Dia : Fis lo udah tau si A mau nikah? Gue : Belum Mba. Kapan memang? Dia: minggu depan fis. Gue : Hah? Kok ga dapet undangan gue? Dia : Dia belom buat fis. Gak pake resepsi soalnya. Menikah di KUA aja gitu. Acara akad ajah. Gue : Hari apa mba? Dia : Hari kamis. Kita dateng aja yuk pulang kerja. Gue : Kok nggak hari minggu atau sabtu Mba? Dia : Katanya dia sih tanggal segitu biar biaya daftar KUA nya gratis. (ngomong sambil ketawa) Gue : Hah? Gratis?! *ekspresi melongo Hati … Continue reading Perempuan dan Pernikahan (Part 1)

Hari Bahagiamu

Rasanya aku ikut bahagia dengan pilihanmu hari ini. Bukan. Bukan tentang siapakah dia yang mendapatkan hatimu. Tapi lebih penting dari itu. Bisnismu yang baru. Aku percaya langkah baik ini akan menuntunmu pada hasil yang baik. Meski hasilnya tak pasti akan banyak seketika. Kamu lihat? Allah begitu baik, bukan? Sekarang kamu dikelilingi doa dari banyak orang. Berjuta doa-doa mereka yang pernah kamu tolong itu kini mulai Allah dengar. Kamu memang tak pernah tahu doa dari mulut siapa yang mengetuk pintu langitNya. Tapi percayalah, Allah sudah (dan selalu) membuktikan janjiNya. JanjiNya untuk tak pernah pergi. Janji bahwa pertolonganNya tak pernah lupa waktu. … Continue reading Hari Bahagiamu

Aku yang (sok) bijaksana…

Jangan sedih kalau “Dia yang belum halal” tak selalu ada buat kamu. Jangan marah kalau “Dia yang belum siap melamarmu” tak pernah mau mengantarmu pulang. Jangan merasa kecewa kalau “Dia yang menjaga hatinya” tidak bisa menggenggam tanganmu dan menghapus air matamu saat kamu sedih. Kamu tahu? Mungkin saat itu dia juga merasakan hal yang sama. Namun, demi taat padaNya. Demi menjaga kesucianmu dia pun juga harus rela menahan keinginannya. Kata Allah, pria yang baik hanya untuk wanita yang baik. Kamu berusaha, dia juga. Kamu memperbaiki, dia pun sama. Kamu hanya harus percaya, Allah sudah atur segalanya. Semua hanya soal waktu … Continue reading Aku yang (sok) bijaksana…

Pantai (ber) Cerita

Mereka hidup dekat dengan pantai yang cantik nan indah. Lengkap dengan suara deburan ombak yang membuat hati damai dan pasir putih yang menyejukkan mata. Mereka juga tinggal di antara tanah yang subur dan kekayaan hutannya. Tanpa bising kendaraan dan polusi kota. Aku pikir anak-anak itu, mereka seharusnya bahagia. Iya, seharusnya… Tapi, membaca tulisan dan cerita-ceritamu hari ini, kamu menyadarkanku tentang sebuah kenyataan. Pemandangan indah itu, mengapa lagi-lagi kisah pilu yang ada dibaliknya? Mengapa bukan tentang tawa dan cerita-cerita yang menyenangkan? Kalau sudah begini, bukan hanya empatimu yang semakin dalam. Aku pun sama. Continue reading Pantai (ber) Cerita

Maaf (kan) saja yaa…!

Ada banyak kata maaf yang saling menghampiri setiap Hari Raya Idul Fitri tiba. Kita bahkan bisa membuat satu kartu ucapan yang tinggal kita kirim serempak ke sesama sahabat juga kerabat kita. Tak lupa sebaris kalimat “Mohon maaf lahir dan batin” yang selalu terselip di dalamnya. Namun entah mengapa terkadang kata maaf yang kita tunggu-tunggu justru tak pernah hadir dari orang-orang yang telah benar-benar sangat menyakiti hati kita. Padahal menurutku, ya, maaf mampu membuat luka hati seseorang menjadi sembuh. Sebuah kata sakti bernama “maaf” bahkan mampu melelehkan hati yang beku dan juga mendamaikan sebuah pertikaian yang sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Kata … Continue reading Maaf (kan) saja yaa…!

Tetaplah (menjadi) Baik

Aku tak peduli tentang masa lalumu. Segala hal yang bahkan kamu anggap kelam dan menyakitkan, nyatanya mampu kamu lalui. Karena perjalanan itulah yang akhirnya menjadikanmu sekuat dan setegar hari ini. Mungkin kamu pernah dikerdilkan. Sebagian lagi begitu semangat mengacuhkan. Tapi Tuhan tidak. Ia akan menjagamu setiap detik, seumur hidupmu. Aku harap kamu tak memandang rendah dirimu lagi. Karena Tuhan pun tak pernah memandang rendah hambanya yang ingin berubah menjadi lebih baik. Seandainya juga aku bisa memilih, ada banyak pilihan yang jelas-jelas baik terpampang di hadapan. Mapan, tampan dan beragama. Namun kita tak pernah tahu kemana Tuhan menggiring hati kita untuk … Continue reading Tetaplah (menjadi) Baik

Dewi Kumbang

Seruling pagi yang bernyanyi Menyusur laman rindu yang terperi Lubang demi lubang berdendang Mengiringi kisah sang Dewi Kumbang Kedua sayap yang rapuh menjadi saksi ia pergi jauh Meninggalkan rumah belukar gelap terkukung dari dunia luar Kumbang terbang melarikan diri Rimba dan belantara harus ia lalui Hasrat kumbang setinggi pohon tertinggi Terseok-seok menjejal hutan penuh duri Kumbang bertanya-tanya Adakah esok berpihak padanya? Seperti apakah kota? Baikkah? Ah, kalau tidak pun tak mengapa Meski harapan dipupus semesta Kumbang selalu percaya Tuhan akan ada bersama Kumbang tiba di tempat tertuju Di antara kepulan asap dan suara yang menderu Tak ditemui kuntum-kuntum bunga melainkan … Continue reading Dewi Kumbang

Aku. Kamu. Mereka

Berbeda seharusnya bukan berarti membenci. Juga bukan berarti antipati. Kita berbeda karena mungkin kita belum sepaham, belum satu pemikiran. Itu saja. Hanya orang-orang dengan pikiran sempit yang membuat perbedaan melahirkan kebencian. Menyalahkan mereka yang membuat suatu kebijakan. Menghasut orang lain untuk percaya bahwa kebijakan itu tidak memihak padanya. Diskriminasi, atau apalah. Padahal mungkin keputusan itu sudah yang terbaik, yang disepakati demi kebaikan bersama. Tak usah kau berkoar-koar merasa tersakiti. Merasa terdzolimi. Manusia yang paling bodoh sekalipun, tetaplah manusia. Bukan robot yang bisa seenaknya kau paksa bergerak sesuai kehendak. Karena manusia dianugerahi akal dan perasaan. Kalau kau merasa kuat. Berdirilah tegak. … Continue reading Aku. Kamu. Mereka